Got this inspiring story from http://yudhim.blogspot.com
Seorang guru sufi mendatangi wajah muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?" sang guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari, biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan perintah gurunya itu, lalu kembali membawa segelas air dan dua genggam garam sebagaimana diminta.
"Coba segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata sang guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena minum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya sang guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang guru terkekeh melihat wajah muridnya yang meringis karena keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang guru membawa muridnya ke danau dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin di mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan tangannya, mengambil air danau, membawanya ke mulutnya, lagu meneguknya. Ketika air danai yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, sang guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar. Segar sekali," jawab si murid sambil mengelap mulut dengan punggung tangannya. Tentu saja, air di danau tersebut berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangakan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danau dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata sang guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya penderitaan dan masalah yang harus kau alami sepanjang hidupmu itu sudah dikadar oleh Allah. sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-gitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi nak, rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat bergantung dari besarnta 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi nak, supa tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau
No comments:
Post a Comment