Saturday, February 19, 2011

Udang Goreng Saus Tiram

Akhir-akhir ini nge-post resep melulu. Ntah karena ga ada ide atau emang lagi semangat di dapur hehehe... Aku post resep yang pernah aku coba pastinya, dan berhasil (baca=enak).

Bahan:

400 gr udang
2 sdm kecap inggris
1 sdt garam
1/2 sdt merica bubuk
1 sdt air jeruk lemon
minyak untuk menggoreng

Bahan saus:

3 lembar daun jeruk, buang tulangnya
2 sdm kecap manis
1/4 sdt garam
1/4 sdt gula pasir
100 ml air
1/2 sdt air jeruk lemon
2 sdm minyak untuk menumis

Bumbu halus:

8 butir bawang merah
4 siung bawang putih
4 buah cabai merah keriting
3 cm terasi udang
3 butir kemiri, sangrai
2 cm jahe

Cara membuat:

1. Lumuri udang dengan kecap inggris, garam, merica bubuk, dan air jeruk lemon. Diamkan 15 menit. Angkat dan goreng sampai matang. Angkat dan tiriskan.

2. Saus: Tumis bumbu halus dan daun jeruk sampai harum.

3. Masukkan udang. Aduk rata. Tambahkan kecap manis, garam, dan gula pasir. Aduk rata. Tuang air. Masak sampai meresap. Tambahkan air jeruk lemon. Aduk rata.

Friday, February 18, 2011

Beef Bruschetta

Ini percobaan kedua. Waktu pertama kali bikin pake roti prancis yang keras itu hahaha... yang cocoknya buat dimakan sama sup. Habis, aku taunya roti prancis ya baguette yang keras itu. Aku mikir kalo udah mateng, rotinya bakal lunak, ternyata nggak :p
Akhirnya nyoba lagi pake baguette yang lunak kayak roti biasa (ada ternyata hehe..), baru deh enak ngunyahnya :)

Bahan:

Half baguette, potong miring 1 cm
70 gr daging giling
1 buah sosis sapi, potong dadu
1 buang bawang bombay, cincang halus
2 siung bawang putih, cincang halus
1 batang seledri, cincang
1 buah tomat, cincang/potong dadu
3 sdm mayonese
merica secukupnya
pala bubuk secukupnya
sambal tomat untuk mengoles roti
keju mozarella parut untuk taburan
minyak untuk menumis


Cara membuat:


1. Tumis bawang bombay dan bwang putih sampai harum. Masukkan daging giling dan sosis, tambahkan garam. Tumis sampai matang.


2. Pindahkan tumisan ke mangkuk, campurkan daun seledri, mayonese,tomat, merica, dan pala. Aduk rata.

3. Oles masing-masig permukaan roti dengan saus tomat secukupnya. Lalu beri adonan, dan taburkan parutan keju mozarella.

4. Panggang di oven dengan suhu 150 derajat celcius selama 15 menit.

Wednesday, February 16, 2011

Bubur Ayam Kuah Kuning

Hari libur kemaren aku dan mama bikin bubur ayam kuah kuning. Katanya ini masakan dari Jawa Barat (aku baru tau hehe...). Di Medan yang jual sarapan bubur ga banyak, ga kayak di Makassar atau Jogja, makanya kita bikin aja. Mama yang bikin bubur, aku bikin kuahnya. Pada dasarnya bubur ayam, tapi kuahnya beda, lebih banyak jenis rempah, dan yang pasti jadi lebih Indonesia rasanya :)

Bahan:

300 gr beras putih
3 ltr air
4 lembar daun salam
2 sdt garam
2 sdm minyak goreng
1 ekor ayam (+ 700 gr)


Haluskan:

12 bawang merah
5 siung bawang putih
3 cm kunyit
2 sdt ketumbar, sangrai
5 butir kemiri, sangrai
1/2 sdt lada butiran

Kuah:

1,5 liter kaldu
2 sdt garam
1/2 buah biji pala, memarkan/parut

Pelengkap:

cakwe
kecap manis
2 batang daun bawang, iris halus
2 batang seledri, iris halus
bawang goreng
kerupuk

Cara membuat:

1. Masak beras, air, dan daun salam sampai bubur menjadi lembut. Bila beras belum menjadi bubur, tambahkan air panas secukupnya.

2. Rebus ayam sampai empuk, angkat, sisihkan. Setelah agak dingin, goreng ayam sampai kekuningan, angkat, suwir-suwir.

3. Buat kuah: panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus bersama biji pala sampai harum. Lalu tuang ke air kaldu bekas merebus ayam, aduk rata, didihkan.

4. Sajikan bubur ayam dengan kuah, beribahan pelengkap.

NB: Untuk ketumbar, bisa juga digunakan ketumbar bubuk, tidak perlu disangrai.

Monday, February 14, 2011

Fettucine Carbonara

Kemaren bikin fettucine carbonara. Dan aku sukaaaaaa sekali hasilnya, enak hehehe.. Emang dasarnya aku emang suka makanan-makanan yang pake krim kental kali ya.Oia, karena dirumah kemaren ga ada daging asap dan keju parmesan, aku ganti sama sosis dan keju cheddar parut.

Bahan:

150 gr fettucine
3 siung bawang putih, cincang kasar
1/2 buah bawang bombay, cincang kasar
2 lembar daging asap, potong panjang
2 kuning telur
250 ml krim kental
15 gr keju parmesan, parut
1/2 sdt garam
1/4 sdt merica bubuk
1 sdm minyak untuk menumis

Bahan taburan:

100 gr keju parmesan, parut
1 sdt merica hitam, sangrai, tumbuk halus

Cara membuat:

1. Didihkan 1000 ml air, 1/2 sdt garam, dan 1 sdm minyak goreng. Masukkan fettucine, rebus sampai matang (8-12 menit). Angkat dan tiriskan.

2. Aduk rata kuning telur, krim kental, keju parmesan, garam, dan merica hitam bubuk. Sisihkan.

3. tumis bawang putih dan bawang bombay sampai harum. Tambahkan daging asap. Aduk rata.

4. Masukkan fettucine. Aduk rata. Tambahkan campuran kuning telur. Aduk rata. Angkat.

5. Sajikan dengan taburan keju parmesan dan merica hitam.

Friday, February 11, 2011

About passion and interest

"I'd rather do nothing but happy than do something that I don't like." - Jack Fuller (What Happens In Vegas movie)

Itu yang dikatakan Jack Fuller (Ashton Kutcher) kepada istrinya Joy McNally (Cameron Diaz) di film What Happens In Vegas. They had accidental marriage when they were in Vegas. Joy, seorang broker, ceria, selalu berusaha bikin orang-orang disekitarnya senang, yang weekdays nya diisi dengan kerja dari pagi sampai sore, heran dengan Jack yang hidupnya santai banget. Jack, anak seorang pengusaha perabot, dinilai Joy sebagai seoarang pemalas. Malas kerja, mentang-mentang kerja di perusahaan Ayahnya sendiri, malas mengembangkan diri padahal dia punya bakat untuk lebih sukses dari Ayahnya, dan takut akan tantangan. Tiap kali ditantangin dia selalu punya alasan untuk menghindar, apapun. Prinsip hidup Jack emang oke sih, tapi kalo dia malah jadinya ga ngapa-ngapain kan ga oke juga hehehe... Sebaliknya, prinsip itu akhirnya berhasil mengubah Joy. Sadar kalo selama ini dia TERLALU baik dan kurang mikirin diri sendiri, dia jadi merenung dan pelan-pelan mulai merubah mindset nya. Dia juga menolak naik jabatan di kantor karena sebenarnya dia nggak pengen itu.

Waktu nonton film ini kemaren, pas Jack ngomong kayak gitu, aku langsung pause filmnya, seperti tersihir hehehe... Well, aku setuju sama Jack, dan aku sebenarnya penganut prinsip itu. Tapi kadang hidup maksa kita untuk melakukan hal yang ga kita suka, dengan berbagai macam alasan. Paling sering sih alasan yang aku denger itu 'demi menyenangkan orang lain' terutama keluarga. Ada orang kayak Jack Fuller, ada juga yang kayak Joy McNally. Hmm...aku ada diantara mereka. Aku penganut prinsipnya Jack, tapi ga mutlak juga, ada waktu tertentu dimana aku mau berkorban demi orang lain, dan kadang berani menghadapi tantangan (tergantung tantangannya apa :p) kayak Joy. Tapi jujur, aku kagum sama orang-orang kayak Joy. Aku punya beberapa teman kayang mirip Joy. Mereka bersemangat, mau banget dimintai tolong, selalu berusaha nyenengin orang lain, dan itu bikin aku iriiiiiii banget. Aku suka nyenengin orang lain, tapi kalo lagi bad mood aku bisa jadi orang yang super duper egois dan ga ikhlas hehe.. Dan entah gimana caranya aku selalu ngeliat orang-orang kayak Joy always do everything perfectly.

Selama ini aku seringnya ngelakuin sesuatu yang aku ga tau suka atau nggak. Aku cuma menjalaninya aja, kayak sekolah, kuliah, bergaul dengan macem-macem orang. Sangat sedikit aku melakukan hal-hal dimana aku memang senang menjalaninya. Contoh pertama, waktu les inggris di Briton. Selama sekolah, aku cuma les inggris di Briton, ga pernah pindah-pindah. Itu pun mulai lesnya telat. Kalo biasanya anak sekolah mulai leas dari SD, aku mulai les pas udah SMA kelas 1. Tapi aku enjoy banget les disana. Everythings at Briton was cheering me up. Aku ga pernah males les, walopun capek pulang sekolah. Trus yang kedua apa ya, nah tiap kali masuk toko buku atau perpustakaan. Aku senang dengan pemandangan buku dimana-mana hehehe... Dan makin seneng lagi pas diterima jadi per timer di perpustakaan kampus waktu masih kuliah. Dan, yang terakhir sih (thank God i realized it), jogging. Baru benar-benar menikmati yang lamanya lari. Sekarang aku rutin jogging minimal 2x seminggu pas weekend hehehehe... Still trying to find the rest of interest, just keep digging and searching :))

Wednesday, February 9, 2011

Be thankful

 Pagi ini buka twitter dan baca curhatnya Alanda Kariza, seorang penulis muda, mahasiswi, dan banyak lagi alias nya karena menurutku dia cewek aktif dan cerdas. The post is here. Habis baca itu, aku jadi berempati sama dia. Aku cuma bisa berdoa yang terbaik buat dia dan keluarganya, agar Ibunya juga tidak dipenjara. Bayangkan, kurungan 10 tahun plus denda 10 milyar! Kalo mereka keluarga konglomerat sih ga papa, but they're just a family who's come from the middle class. I really pray the best for her problem. She is smart, talented, has a bunch of dreams to reach for.

Cerita Alanda sebenarnya bukan yang pertama. Di dunia ini pasti banyak kisah-kisah serupa atau hampir mirip, yang bisa kita ambil hikmahnya, jadikan pelajaran dan bahan introspeksi diri.

Aku sering ngerasa hidupku biasa-biasa aja, datar, plain. Intinya, aku ga puas sama apa yang udah aku miliki sekarang. Ujung-ujungnya, jadi sering ngeluh, dikit-dikit ngeluh. Dan mengeluh itu melelahkan lho. Untungnya aku sadar kalo keseringan mengeluh itu buang waktu dan bikin capek, jadi aku pengen merubah itu. Lumayan lah, kebiasaan mengeluh jauh berkurang :)

Dan setelah tau masalah Alanda, aku jadi introspeksi lagi gimana sih hubunganku sama keluarga. Same with Alanda, and perhaps most of children in this earth, family is my precious treasure, gift from God, a thing that I called home. Aku boleh aja jaim kalo lagi di luar rumah atau berhadapan sama orang lain, I can use my thousand mask heheh...tapi kalo lagi sama keluarga, aku jadi Shelly yang sebenar-benarnya, the real me. Waktu kuliah jarang ngumpul sama keluarga karena beda kota. Baru sadar betapa berharganya family time itu. Sekarang aku menikmati quality time with family, even cuma nonton TV bareng kalo malam atau ikut dalam serunya 'kegilaan dan kesemrawutan' di pagi hari hehehe.. Karena ga selamanya bakal aku rasain kan. Ga selamanya aku bakal sama meraka terus. Anak-anak akan memiliki dan menjalani kehidupan sendiri, dan belum tentu sering ketemu sama orang tua. Atau bahkan, dipisahkan oleh kematian. Agak horor sih ngomongin ini. Tapi kematian memang ga ada yang tau kapan datangnya. Jadilah nikmatilah apa yang ada! :)

Tanpa bermaksud sok alim, setahun belakangan ini aq  mendekati Tuhan. Bukan karena punya masalah atau apa, tapi aku ngerasa aku cuma tau Tuhanku, tapi ga mencoba mengenalNya lebih dalam. Selama ini shalat ya cuma shalat, puasa ya tinggal puasa aja, lebih ke kewajiban aja. Sekarang mencoba menggali lebih dalam lagi tentang masalah agama, kekhusyukan dalam beribadah, berbuat baik, dan sebagainya. Dari dulu aku tau Tuhan itu ada, dan aku juga tau pepatah 'Tuhan ada di setiap langkahmu', tapi cuma sekedar tau. Setelah diresapi, ternyata amat sangat bisa mempengaruhi diri. Aku ngerasa jadi lebih kuat aja mengahadapi apapun. Karena apapun yang terjadi, itu atas izinNya, dan dia selalu menemani, bahkan disaat aku merasa sendiri... :)

Sunday, February 6, 2011

Me = Summer Finn?

I was browsing yesterday, aimless, and I found an article from somebody's blog, here. She reviewed a movie, 500 Days of Summer. I read what she felt about that movie, and I think I also have to write something too. Why? Here it is...

I know that movie. I know it when I watched Golden Globe Awards on TV where Joseph Gordon-Levitt got a nominee. Last time I saw him on Ten Things I Hate About You, long time ago. I was just curious about the movie where he got nominated for. I got a feeling the movie must be great. At the moment I was still in a relationship, at jogja (yes, with him). He likes to download movie free from internet, so I asked him to download me the movie. He did it, but he gave me the copy a day before I left Jogja, or when we broke up. When I was at home, I forgot to watch the movie. No, I forgot that I ever asked him to download the movie. One day he sent me sms, and told that the guy in 500 Days of Summer's movie was exactly like him. And then I watched the movie, and shocked. It same with my relationship with him, well, generally. Except the sex scenes etc hehehe... I'd never been seeing a movie that the story is "so me", yet until I watched 500 Days of Summer.

On objective side, Summer Finn sucks. She dumped Tom Hansen. She is so selfish and cruel. But on subjective side, I understand her feeling and why she broke off her relationship with Tom, because we had same reason why we wanted to ended it all up. If Summer sucks, perhaps me too. I know myself. But if Summer had told Tom at first that she didn't want a serious relationship and also she didn't want a commitment since it woud only hurt people's feeling, not with me. Ever since I had realtionship with him, I always serious. That's the difference between me and Summer. But after I broke up, I trust Summer's principle. My mindset has changed. I don't want to be somebody's girlfriend. I just want to be somebody's wife

I broke his heart, I know. But I couldn't help it. All I can say is like what Summer said when Tom asked why did she go:
"I just woke up one day and I knew that I'd never sure with you. It was meant to be."

Sometimes truth is much more painful. I'm sorry.

Saturday, February 5, 2011

The essence of blogging

Sebenarnya apa sih tujuan seseorang bikin blog? Setauku ya:
* Bagi yang suka dan berbakat menulis, blog bisa jadi media yang oke buat memenuhi hasrat menulisnya
   sekalian juga bisa dipamerin ke orang lain.
* As a diary. Sama aja kan, bedanya kalo diary biasanya ditulis trus bisa diumpetin (ada malah diary yang
   pake kunci wkwkwk...), kalo blog diketik, trus bisa di share juga sama siapa aja.

Nah, aku kayanya lebih condong ke alasan yang kedua deh. Aku ngerasa ga terlalu bakat menulis, tapi suka nulis. Terbukti dengan acak-acakannya tulisanku dari segi tata bahasa atau grammar (kalo lagi mood nulis in english) tapi aku ga peduli, tetep aja nulis hehehe...
Aku orang yang introvert. Susaaah banget kalo mau curhat ke orang, makanya dulu aku nulis diary. Well, aku tetap curhat ke sahabat-sahabatku koq kalo lagi punya masalah, I'm not an acute introvert too hehehe... Cuma Rasanya beda aja kalo nulis diary. Unek-unek di kepala bisa keluar gitu aja tanpa ada yang protes. Nah, di Medan kan temenku dikit, sahabat-sahabat yang biasanya jadi tenpat curhat pada jauh, ga tau kapan ketemunya, nulis diary males (baca: beli diary lagi males hehe..), so I made a blog. Aku bikin blog ini pertengahan 2010. Tetep beda donk sama diary, walopun esensinya mungkin sama. Di diary aku bisa cerita apaaaa aja, sampe hal-hal ga etis pun aku bisa tumpahin lewat nulis diary. Blog kan mungkin banget dibaca sama orang lain (jauh lebih mungkin dari diary yang diumpetin), jadi aku ga bisa nge-post seenak jidat. Bagus juga sebenarnya, aku labih hati-hati, trus jadi lebih ekstrovert juga. Dan aku ga peduli tulisanku bagus atau nggak, yang penting aku nge-blog hahaha...

Tuesday, February 1, 2011

Berhentilah menjadi gelas

Got this inspiring story from http://yudhim.blogspot.com

Seorang guru sufi mendatangi wajah muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?" sang guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.

Sang guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari, biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan perintah gurunya itu, lalu kembali membawa segelas air dan dua genggam garam sebagaimana diminta.

"Coba segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata sang guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena minum air asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya sang guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang guru terkekeh melihat wajah muridnya yang meringis karena keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang guru membawa muridnya ke danau dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin di mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata sang guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan tangannya, mengambil air danau, membawanya ke mulutnya, lagu meneguknya. Ketika air danai yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, sang guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar. Segar sekali," jawab si murid sambil mengelap mulut dengan punggung tangannya. Tentu saja, air di danau tersebut berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangakan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air danau dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata sang guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup ini seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya penderitaan dan masalah yang harus kau alami sepanjang hidupmu itu sudah dikadar oleh Allah. sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-gitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi nak, rasa 'asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat bergantung dari besarnta 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi nak, supa tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau