Saturday, April 2, 2011

Between fantasy and reality

I'm a true daydreamer. Gampang banget 'memindahkan' pikiranku dari realita ke dunia khayal, kemudian mengembalikannya ke dunia nyata. Gampang dan cepat, bisa dimana aja. Bahkan sambil melakukan aktivitas sehari-hari (yang nyata) aku juga bisa berkhayal, tanpa perlu melamun atau sebangsanya. Hebat ya? Hihihi....

Saking seringnya berkhayal, aku jadi lupa pernah mengkhayalkan apa aja (khayalannya bukan yang porno, lho!). Sampai aku baca posting di blog salah satu penulis favoritku, Sitta Karina. Hell she's damn right! Aku terbengong-bengong membaca post itu. Kenapa aku nggak menulis aja ya? Aku bisa kok menulis, aku menulis diary, aku punya blog ini. Memang sih tulisanku nggak (atau belum) sebagus tulisan Sitta Karina, JK. Rowling, Meg Cabot, Stephen King, dan penulis favoritku lainnya. Tapi mengingat banyaknya khayalan yang ada di otak, kenapa nggak aku tuangkan aja jadi sebuah tulisan? Entah itu cerita atau artikel atau apalah, yang penting otakku nggak penuh dan ide-ide yang sempat muncul nggak hilang/lupa begitu aja, kan sayang. Apalagi pas baca kalimat ini di blognya kak Arie:

"Terlalu banyak ide di kepala harus disalurkan. Agar tetap waras." 

Geez...  Aku sering ngerasa kerja otakku agak semrawut. Mungkin ini sebabnya.

Aku pernah menulis cerita, waktu SMP. Beberapa cerpen yang aku tulis tangan, karena dulu belum familiar sama komputer, apalagi laptop. Dan pernah juga menulis satu cerita fantasi. Bodohnya, semua tulisan itu hilang entah kemana, nggak aku simpan baik-baik. Jadi sekarang aku mulai mneulis lagi. Mulai rutin memindahkan pikiran-pikiran di kepala. Dan hey, menulis itu menyenangkan lho, contohnya menulis cerita fiksi. Penulis bebas menulis sesuka hati, menciptakan dan mematikan tokoh, mengatur alur cerita. Kayak Tuhan banget kan? Hehehe....

And like what Richard Rhodes said:

"If you want to write, you can. Fear stops most people from writing, not lack of talent, whatever that is. Who am I? What right have I to speak? Who will listen to me if I do? You're a human being, with a unique story to tell, and you have every right. If you speak with passion, many of us will listen. We need story, all of us. We live by story. Yours enlarges the circle."

Dan yah, temanku disini kan nggak banyak. Jadi aku perlu media lain untuk menyalurkan pikiran. Ada mama dan papa sih, atu adik bungsuku. Tapi itu lain cerita.

Seandainya saja aku beneran punya Penseive kayak Albus Dumbledore. Seandainya saja Penseive itu nyata.. Seandainya juga kantong ajaib doraemon itu nyata...

No comments:

Post a Comment